The Rosella Journal
Dari salah satu sudut Jakarta, seutas senyum paling manis mengukir bibir wanita muda dengan busana kerja yang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman. Sepasang netra legam tersebut lantas memusatkan perhatian pada layar notebook usai melepas pandangannya dari catatan kecil hasil wawancara minggu lalu. Sinkronisasi antara pikiran dan jari lentik miliknya pun bermula.
***
Dua puluh tiga tahun. Di sela-sela langkah kaki Juano Pranata, rasa lapar menggerogoti hatinya. Panas terik yang sering terjadi di Surabaya mengundang sebagian penghuninya bermuka datar. Tanpa sadar, Juan sudah lupa bagaimana rasanya berada di rumah. Rasa yang terlupakan, perlahan kembali menggugah dirinya.
Sembari mengawasi sekitar, Juan terbayang akan rasa rujak cingur dari kampungnya. Materi yang tetap menjadi favoritnya ialah saat penjual menuangkan bumbu kacang di atas isian rujak yang telah tertata sedemikian rupa. Lalu, menyantapnya kala tengah hari dan dihiasi buliran peluh pada pelipis wajah.
Selagi mentari melukis kanvas biru dengan warna jingga, seruan dua bocah yang dinanti Juan untuk mengajaknya bermain kini terdengar. Bersama sebuah bola yang akrab dimainkan anak laki-laki seibu pertiwi, Juan dan dua bocah itu menuju lapangan. Biarpun hanya berbekal sebotol air mineral.
“Juan, semangat mainnya!” pekik seorang gadis dari sisi lapangan.
Ya, Juan kenal betul siapa si pemilik suara. Gadis berparas legit itu ialah teman sekolah sekaligus seseorang yang pernah berlabuh di hatinya. Seseorang yang membuat dia menikmati pertandingan dan seseorang yang membuat dia merekahkan senyum setiap mengingat sosoknya, pun sampai detik ini.
Kira-kira, ke mana hilangnya perasaan Juan selama dia merantau ke ibu kota? Apakah terkubur rasa ambis Juan tuk menggali ilmu di sana. Persetan dengan segala enigma, rindu Juan pada kampung halamannya terasa kental seakan mengiringnya pada hal lazim bernama cinta.
Pemuda bergelar sarjana itu tak menyangkal bahwa dia mencintai tempat kelahirannya. Bagaimana dia menghabiskan masa kecil penuh tawa, sungguh menyenangkan teringat. Seraya mengemban segenap perasaannya, tepat di palang pintu rumah yang lama tak disapanya dia berucap, “Assalamualaikum, Buk. Juan pulang.”
***
“Lulu, terimakasih atas kerja kerasmu.”
“Terimakasih, juga.”
Cewek bergaun modis yang menampakkan kaki jenjangnya itu berjalan menjauhi pelataran putih bekas pemotretan. Sorot lampu studio cukup memicu pupil matanya terasa penat. Dia duduk ditemani sang manajer sambil mengamati sesi foto selanjutnya.
“Apa yang kamu lihat?” celetuk laki-laki paruh baya, sejenak mengalihkan amatan Lulu.
“Cewek, kamera, dan lampu,” jawab Lulu tanpa menatap si lawan bicara.
Laki-laki berambut uban itu terkekeh pelan, bermaksud ada hal lain yang diekspektasikannya. “Sudah berapa tahun kamu berdiri di tempat yang didambakan kebanyakan cewek, coba sebutkan yang lain.”
“Aku lagi nggak ingin jawab yang kayak gitu,” ungkap Lulu kian merona sedu.
“Ah, maaf. Terimakasih atas pemotretannya.” Laki-laki tersebut tersenyum simpul, kemudian beranjak pergi.
Berakhirnya agenda sore, Lulu berbenah di ruang rias bersama para model lainnya. Sesaat, dia memandang cermin penuh tanya, sebab kalimat laki-laki tadi masih menggema pendengarannya. Gaun mewah, sepatu high heels yang sepadan, surai panjang yang terawat, dan pernak-pernik guna mempercantik rupanya. Lalu, apa?
“Kak Lulu!” sapa Grace Pattinson, seorang junior yang sedang naik daun.
“Oh, hai Grace!” Melepas atensinya, Lulu membalas sapaan Grace.
“Hari ini Kak Lulu tetap bersinar kayak biasanya, ya. Tapi, aku nggak akan kalah loh,” ucap Grace kaya percaya diri.
“Hati-hati sama ucapanmu, aku juga nggak akan menyerah segampang itu,” timpal Lulu disertai tawa canggung.
“Padahal usia Kakak hampir 30 tahun ini? Suatu saat nama Lulu Lawrence bisa digantikan dengan mudah sama generasi baru, nggak selamanya Kakak bisa berdiri di atas,” cerocos cewek kepala dua tersebut sembari melipat ke dua tangannya di dada.
Selang satu sekon, senyum Lulu luntur tergantikan kerutan di dahi mulusnya. Satu gertakan Grace mampu menuntutnya bertanya lagi, untuk apa dia memilih pekerjaan ini. “Aku... hanya menyukainya,” jawab Lulu di ambang ragu.
“Maksud Kak Lulu?” Tak mengindahkan sang empunya, Lulu bergegas meninggalkan ruangan berniat menjumpai seseorang yang terbesit di benaknya.
“Pak kepala editor!” Sang pemilik julukan sontak mendongak dari setumpuk lembar kerja yang setia menyibukkannya. Ke dua alisnya menyatu menyiratkan ekspresi bingung lantaran kedatangan Lulu yang terengah-engah.
Sejalan dengan meraup zat pembakar oktan delapan, Lulu berlagak tak sabar menyampaikan pesannya. “Aku mengerti maksud pertanyaanmu tadi,” dia mencoba sigap, “Aku suka saat pakai pakaian bagus, aku juga suka saat fotoku dijadikan sampul oleh media. Jadi, apa yang aku lihat adalah hal yang berharga. Aku nggak perlu selalu jadi nomor satu, selama masih bisa melakukannya itu sudah cukup. Karena, ku rasa aku mencintai pekerjaanku,” lanjutnya.
Jemari rapuh pemegang pena itu berdesir mencairkan tubuh yang membeku sebab menekuni sebait frasa milik Lulu. “Kalau begitu, lain kali mohon kerjasamanya lagi,” ujar laki-laki tersebut diikuti senyum simpul andalannya.
“Baik!” sahut Lulu tak ada ragu, pula dihinggapi rasa semangat menggebu-gebu.
***
Semesta, tahukah kau mengapa raut tuan putri Yogyakarta kini tampak muram? Atau barangkali rungu, kalian dengar sebait suara itu? Pernyataan jua pertanyaan yang mengudara dari lisan seorang Mahendra, pangerannya.
“Saya mau lanjut belajar di Cremona, kota pengrajin biola di Italia. Hanya enam bulan, ndak lebih. Tapi sebelum itu, Jenari... boleh saya minta kamu untuk ndak menaruh hati buat yang lain?”
Di bawah langit kota paling istimewa yang menurunkan air matanya, payung warna biru itu lepas dari genggaman tangan kanan Jenari. Susulkan netra bak biji kelengkeng yang menyelami lautan manusia, gadis berambut sebahu tersebut berhenti di salah satu petak bandara. Tenggelam pada punggung pemuda yang tak jauh dari pijakannya.
“Mahen!” Di antara riuh suasana, Jenari melambungkan seuntai nama tanpa aba.
Tatkala kedua kontak saling terhubung, lantas bilah bibir si penerima terbuka. “J-jenari?!” Belum sempat berasumsi, sepasang tungkai Mahen lebih dulu menghampirinya. Namun nahas, dia malah mendapati lukisan mendung jua gemuruh telah merajai sosok putri Arunawulan.
“Tunggu, Italia itu jauh banget loh! Aku juga belum jawab pertanyaanmu kemarin,” jelas Jenari tak kuasa menunggu tangisnya reda.
“Ka-kamu ngapain-”
“Ya! Itu jawabanku. Iya, aku cukup di kamu, Mahendra,” tukas Jenari yang lima sekon kemudian terbit sesabit kurva pada garis bibirnya, sebab baru menyadari betapa malunya dia sekarang.
Sementara di belahan nabastala lain, ada yang dunianya penuh gempar usai seucap balas dari zat bahagia bertamu seenaknya. Pula detak jantung Mahen tak lagi teratur, bilah bingkai lisannya kembali bersuara, “Jenari...” putra Chandrakumara itu mendekat, berbisik lembut pada daun telinga gadisnya, “Saya beruntung punya kamu.”
***
“Cinta memiliki definisi berbeda di setiap penikmatnya. Tiga versi cerita yang ku suguhkan untuk kalian minggu ini pun memiliki makna cintanya sendiri. Kalau bagiku cinta itu keluarga, sesuatu untuk sambat namun juga rehat, sederhana namun sangat berarti. Jikalau rona cintamu sedang kelam, itu nggak papa, karena bahagia dan sedih itu berdampingan. Quotes of the day, Jadi, apa makna cintamu?”
Wanita muda tersebut masih saja mengabsen jajaran alfabet yang di polesnya, dia tak ingin ada kesalahan dalam blog jurnal itu. Meski berujung menyerah dengan langit yang mulai berjumpa senja, dan memantapkan hati untuk membagi tulisannya di laman internet berona pink rose miliknya.
Kunci permainan: love yourself
Komentar
Posting Komentar